Minggu, 16 Juni 2013

Orang tua penentu sikap sang anak...

Ini saya tulis karena ingin sedikit berbagi cerita tentang perkembangan psikologis anak yang mungkin bisa jadi cerminan bagi siapapun termasuk saya...
Beberapa point yang memang harus kita tarik garis :

1. Seorang anak akan mendapatkan pelajaran dasar dalam hidupnya tidak lain tidak bukan ya berasal dari keluarga intinya alias ayah-ibunya. Sejak lahir seorang anak yang mendapatkan ASI eksklusif secara emosional akan terjadi hubungan kontak batin dengan sang ibu. Saat sang anak di peluk oleh ibunya atau ayahnya, sang anak akan terbiasa nyaman dan merasa terlindungi sehingga dia akan juga menyayangi kedua orang tuanya.. Hal ini walaupun terlihat seakan simple tetapi ini modal besar yang mungkin akan menjadi prediksi hubungan horizontal si anak ketika dewasa nanti. Kenapa demikian? Karena ketika anak merasa aman dengan kedua orang tuanya, maka dia akan menyayangi dan menjaga serta menuruti semua suggestions dari orang tua.

2. Pola asuh jangan di banjiri dengan kata kata `bohong`. Ketika si anak sudah mulai lihai dalam bertanya ataupun mengungkapkan pendapat jangan sekali kali orang tua bermain dengan kata kata bohong. Dalam artian misal : sang anak susah untuk tidur padahal kedua orang tua sudah sangat ngantuk karena mungkin capek bekerja maka biasa sekali orang tua untuk bilng 'ayok cepat bobok sayang nanti ada genderuwo lho atau nenek sihir'. Simpel si tapi dampaknya saya rasa bukan sesimpel itu karena secara bertahap orang tua menanamkan rasa ketakutan pada anak yang akan terus berkembang tidak hanya akan hal tersebut tapi juga akan menjadikan anak takut dalam berbagai hal di kemudian hari. Pastinya anada tidak mau kan anak anda menjadi sosok yang kurng berani dan pemalu?

3. Ajarkan lah ilmu rohani sedini mungkin.. Nah ini nih salah satu kunci utama dalam membentuk suatu sifat manusia yang nantinya akan menjadi dasar tameng dalam pergaulan ataupun sosialisasi. Kadang banyak orang tua yang dengan lantang dan yakin berkata 'anak saya nih lho anak baik, selalu rangking di kelasnya, sopan dengan orang tua dan pastinya dia akan baik saja dalam pergaulan di luar. Are u sure mom?? Emmmm memang si gampang gampang susah memantau pergaulan anak kalau sudah keluar dari lingkungan rumah dalam artian disini fisik orang tua sudah tidak lagi ada disetiap gerak gerik anak. Anak yang terlalu di kekang atau dididik dengan satu arah atau dalam lingkungan keluarga si orang tua terlalu dominan tanpa memerhatikan pendapat anak biasanya akan mendidik anak menjadi remaja bunglon, si anak akan tampak manis dalam lingkungan rumah tetapi menjadi membabi buta ketika sudah lepas dari kontrol orang tua.. Nah kuncinya, selain kasih sayang yang akan membentuk kepercayaan diantara keduanya maka yang tidak kalah penting adalah memberikan bekal agama sedini mungkin. Dengan agama yang tertanam sedini mungkin anak akan secara tidak langsung mempunyai tameng batin ketika pergaulan menyimpang ditawarkan.

4. Galilah bakat anak sedini mungkin. Manusia itu adalah makhluk genius multitalenta yang diberikan banyak kelebihan, hanya saja harus jeli dalam mengenalinya. Nah ketika anak tidak menemukan talentanya tidak di arahkan maka ank ini akan mencari cari sendiri dan yg paling ditakutkan dia akan masuk pergaulan yg salah sehingga anak tersebut merasa 'akhirnya gue temukan dunia gue'.

5. Munculkanlah rasa saling percaya dan beri anak tanggung jawab. Remaja adalah manusia dengan ego yang memuncak sehingga orang tua harus hati hati dalam bersikap serta orang tua harua mulai sadar anaknya bukan lagi anak yang harus diberi perintah spesifik tetapi berilah klu dan juga tanggung jawab. Anak remaja tidak perlu di suruh belajar setiap jam 8 malam tetapi cobalah berkata ' ayah ibu percaya kok sama kamu, pasti kamu bisa atur jam belajar dan mainmu dan kalau ada kesulitan ayah ibu siap lho diajak diskusi'.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar